Bogor, Indonesia — Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB University bekerjasama dengan China Agricultural University menyelenggarakan kegiatan “IPB–CAU Rural Transformation Insights Series Vol. 1” dengan topik “How to Understand Rural Transformation in China”. Senin, (27/2026)
Kegiatan ini dilaksanakan di FEMA IPB University sebagai ruang akademik untuk memperkaya pemahaman mengenai dinamika pembangunan dan transformasi perdesaan, khususnya berdasarkan pengalaman Tiongkok.
Kegiatan ini menghadirkan Prof. Dr. Tang Lixia dari College of Humanities and Development Studies, China Agricultural University, Beijing, China. Prof. Tang Lixia dikenal memiliki bidang pengajaran yang mencakup Public Policy Analysis, Rural Development Policy, International Development Aid, Comparative Governance and Politics. Adapun minat risetnya meliputi Poverty Reduction and Social Policy, China-Africa Cooperation, serta International Development Aid.
Dalam paparannya, Prof. Tang Lixia menjelaskan bahwa transformasi perdesaan di Tiongkok tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan fisik desa, tetapi sebagai proses panjang yang mencakup perubahan kebijakan, relasi desa-kota, struktur pendapatan petani, sistem produksi pertanian, serta fungsi dan nilai baru kawasan perdesaan.
“Transformasi perdesaan di Tiongkok berkembang melalui beberapa tahapan penting, yakni Household Responsibility System, industrialisasi dan urbanisasi, pembangunan infrastruktur desa, hingga strategi Rural Revitalization,” ungkap Prof. Tang
Lebih lanjut, Ia juga menekankan lima aspek revitalisasi, yaitu bisnis berbasis pertanian, ekologi, budaya, dan tata kelola perdesaan. Hal ini menunjukkan perubahan nyata pada kualitas perumahan, transportasi, layanan publik, lanskap desa, usaha lokal, e-commerce, serta peningkatan mekanisasi pertanian.
Di samping itu, dalam penjelasan Prof. Tang bahwa isu transformasi perdesaan menjadi semakin penting dalam konteks pembangunan berkelanjutan. Pengalaman Tiongkok menunjukkan bahwa pembangunan desa perlu dilihat secara komprehensif, tidak hanya dari sisi pertanian, tetapi juga dari keterhubungan desa-kota.
Lebih jauh, ia juga menegaskan transformasi desa harus ditinjau dari peningkatan kualitas hidup masyarakat desa, diversifikasi ekonomi, pelayanan publik, modernisasi pertanian, serta pemanfaatan nilai sosial, ekologis, budaya, dan ekonomi kawasan perdesaan.
Terakhir dalam kesimpulan materinya, Prof. Tang Lixia menekankan bahwa hubungan desa-kota di Tiongkok telah bergerak dari struktur dualistik menuju pembangunan desa-kota yang lebih terintegrasi.
“Mata pencaharian petani juga mengalami pergeseran dari basis pertanian menuju sumber pendapatan non-pertanian yang disertai pertumbuhan pendapatan yang signifikan,” jelasnya. Ia juga menyebutkan produksi pertanian semakin mekanis dan bergerak dari pertanian skala kecil menuju operasi berskala menengah, sementara fungsi kawasan perdesaan menjadi semakin beragam
IPB University dan China Agricultural University berupaya memperkuat pertukaran pengetahuan akademik lintas negara, khususnya dalam memahami bagaimana transformasi perdesaan dapat menjadi bagian penting dari strategi pembangunan, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

.











